YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Direktur Eksekutif
Mubyarto Institute Dr Fahmy Radhi MBA menilai, kenaikan harga BBM
bersubsidi selalu memberikan dampak terhadap penurunan tingkat
kesejahteraan rakyat, bahkan memberikan kontribusi dalam pemiskinan
rakyat Indonesia.
Pemberian kompensasi akibat kenaikan harga BBM dalam bentuk Bantuan
Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) kepada keluarga miskin, imbuhnya,
tidak memadai untuk menomboki kenaikan harga kebutuhan pokok yang dipicu
kenaikan harga BBM.
"Agar akselerasi proses pemiskinan dari dampak penaikan harga BBM
tidak terjadi, jumlah dana BLSM seharusnya dinaikan menjadi sebesar Rp
200.000 hingga Rp 250.000 setiap keluarga per bulan. Bukan hanya Rp
150.000 per bulan," tambahnya saat berbicara pada 90 Minutes Seminar on
Knowledge Partnership dengan tema ''Menyikapi Kebijakan BBM di
Indonesia", di ruang Multimedia UGM..
Seperti diketahui, setiap terjadi kenaikan harga minyak dunia, yang
memicu membengkaknya jumlah subsidi dalam APBN, pemerintah selalu
mewacanakan program pembatasan pemakaian BBM bersubsidi dan program
pengembangan bahan baku alternatif (BBA). Namun, kedua program tersebut
tampaknya hanya sebatas wacana saja.
Ujung-ujungnya, pemerintah selalu memilih alternatif kebijakan yang
paling gampang ditempuh, yakni penaikan harga BBM bersubsidi. Ironisnya,
setelah penaikan harga BBM bersubsidi diputuskan, pemerintah seakan
melupakan begitu saja kedua program tersebut.
"Jika tahun berikutnya terjadi lagi kenaikan harga minyak dunia, pola
kebijakan serupa terulang kembali, seperti yang tengah terjadi pada
2012 ini," papar Dosen Sekolah Vokasi itu,
Ditambahkan di satu
sisi, rencana pembatasan itu akan menghemat subsidi BBM sekitar Rp 165,3
triliun. Namun, dengan persiapan yang teramat minim dikhawatirkan
rencana itu akan lebih banyak mendatangkan madharat daripada manfaatnya.
Di tengah ketidakberdayaan Pertamina dalam menyediakan kebutuhan
Pertamax, akan memaksa bangsa ini semakin tergantung kepada komoditas
impor. Pasalnya, konsumsi premium sudah mencapai sekitar 23,2 juta kilo
liter per tahun, sedangkan produksi Pertamax dari kilang Pertamina hanya
mencapai 600 ribu kilo liter per tahun.
"Akan tidak terelakan lagi, kebijakan pembatasan BBM subsidi dengan
migrasi ke Pertamax meningkatkan impor Pertamax dalam jumlah yang sangat
besar. Meskipun belakangan ini diurungkan dan beralih ke BBG (bahan
bakar gas),'' katanya.
No comments:
Post a Comment